Jumat, 20 Juni 2008

Indahnya Kebersamaan

“Kualitas pendidikan sangat mempengaruhi kemajuan bangsa. Ketika suatu bangsa memiliki kualitas pendidikan yang baik, maka majulah bangsa tersebut, dan begitupun sebaliknya”.
          Kutipan di atas merupakan statement klasik yang sering kita dengar atau baca di media cetak ataupun elektronik. Bahkan, tanpa pernah membacanya pun kita sudah tahu hal tersebut. Berbicara masalah kualitas pendidikan, maka yang menjadi objek sorotan adalah lembaga pendidikan. Mengapa demikian? Karena lembaga tersebutlah yang meng-copy, mem-paste, meng-edit (file kallleeee...!) atau mencetak para generasi bangsa yang bakal berperan dalam menjalankan aktifitas negara.
          Di lembaga universitas, peranan dosen sangat menentukan kualitas mahasiswa. Untuk itu, agar menghasilkan mahasiswa yang berkualitas tinggi, maka kualitas pengajarnya harus lebih berkualitas lagi, baik dalam hal kualitas ilmu maupun kualitas mentransfer ilmunya. Kualitas ilmu tanpa kemampuan dalam mentransfer ilmu seperti halnya seorang tunawicara yang jenius. Ia memiliki kelebihan dalam hal pikiran/ide yang jenius, namun memiliki kesulitan dalam menyampaikan hasil pikirannya kepada orang lain. Begitupun sebaliknya, kualitas ilmu yang rendah namun memilki kecakapan berbicara yang baik, seperti halnya seorang yang tak pernah mengendarai mobil, namun dia selalu panjang lebar menceritakan cara atau tekhnik mengendarai mobil kepada orang lain. Jadi sekali lagi, dosen yang berkualitas adalah dosen yang memiliki kemampuan akademik dan transfering yang baik dalam mendidik mahasiswanya.
Selain itu, kelengkapan media pembelajaran juga sangat penting dalam menciptakan mahasiswa yang professional. Dengan adanya prasarana pendidikan yang lengkap, maka mahasiswa tidak hanya diajak berteori saja, tetapi dapat mempraktekkan langsung dan dapat membandingkannya antara teori dengan hasil yang di dapatnya dari kegiatan praktikum tersebut.
          Yang jadi pertanyaan baru bagi kita semua, “apakah dengan dosen yang berkualitas dan media pengajaran yang lengkap dapat menciptakan mahasiswa yang berkompeten di bidang akademik....???? Menurut saya, hal itu masih belum bisa menjamin pencapaian target yang diinginkan. Saya pikir masih ada satu faktor lagi yang harus dimiliki oleh sebuah lembaga akademik agar dapat menciptakan generasi muda yang profesional. Faktor apakah itu?? Faktor ketiga tersebut adalah faktor kondisi lingkungan. Walaupun dosen yang ada cukup berkualitas dan media yang tersedia cukup lengkap, namun dengan kondisi lingkungan lembaga yang kurang nyaman, maka proses belajar mengajar dapat terganggu. Banyak hal yang dapat mempengaruhi suatu kondisi lingkungan menjadi nyaman, aman dan tentram, ataupun sebaliknya menjadi gaduh, penuh kecaman, ancaman dan ketidak harmonisan.
         Posting kali ini saya mencoba membahas masalah “Pengaruh Ketidakharmonisan dalam Lembaga Universitas terhadap Hasil Belajar Mahasiswa” (Wah! Skripsi nih.......!!!). Trus rumusan masalahnya adalah:
1. Bagaimana kondisi ketidakharmonisan dapat terjadi di dalam dunia kampus?
2. Apakah akibat yang terjadi dari ketidakharmonisan tersebut?
3. Bagaimana menyelesaikan suatu konflik yang menyebabkan kondisi kampus yang tidak harmonis?
          Sebelum menjawab rumusan masalah ini, apakah penulis harus melakukan seminar proposal dulu ya? Atau mungkin nggak perlu kali ya........?????? Ntar malah judulku ditolak lagi. Trus aku bakal selesai 7 tahun kuliah hanya gara-gara itu, bakal terancam DO donk gue?! (Sorry kak senior, aku ngga ada maksud menyinggung loh!!). Ok lanjut! Nah, mungkin langsung aja ya kita bahas satu persatu permasalahan di atas.
         Kondisi lingkungan adalah sebuah faktor yang penting dalam menciptakan kenyamanan dalam belajar bagi mahasiswa dan dosen. dengan kondisi tersebut mahasiswa dapat lebih mudah menyerap suatu penjelasan yang diberikan oleh dosennya jika dibandingkan dengan adanya konflik yang terjadi, baik antar mahasiswa dengan mahasiswa, antar dosen dengan mahasiswa, ataupun antar dosen dengan dosen. Konflik tersebut dapat muncul karena adanya pelanggaran dari salah satu pihak atau keduanya terhadap norma yang berlaku di lembaga kampus tersebut. Terkadang dari pihak mahasiswa membuat suatu pelanggaran terhadap suatu aturan, yang menyebabkan seorang atau lebih dari pihak mahasiswa lain atau dosen menjadi gerah atau tersinggung. Ataukah mungkin karena adanya keputusan yang dibuat dari seorang dosen yang memberatkan mahasiswa sehingga mahasiswa menjadi keberatan dan akhirnya menciptakan sebuah konflik. Dan atau mungkin juga karena adanya perebutan tahta/ jabatan dan atau perbedaan prinsip di kalangan dosen, sehingga terkadang menyisakan konflik internal di antara mereka, atau yang dikenal dengan “perang dingin” atau perang urat syaraf. Perang dingin ini merupakan suatu bentuk konflik yang sangat berbahaya, bukan karena adanya kontak fisik, tetapi berupa perang politik yang saling menjatuhkan satu sama lain, yang mungkin tidak nampak jelas di depan mata para mahasiswanya.
         Memang, jika dilihat dari konflik terakhir di atas, yang menjadi pihak yg berseteru adalah para dosen sendiri. Tetapi bukan berarti yang menerima akibat dari konflik tersebut adalah pihak dosen itu sendiri. Secara tidak langsung, mahasiswa ikut pula memikul dampak perseteruan itu. Banyak mata kuliah mahasiswa menjadi terabaikan karena konflik tersebut. Kenapa bisa? Karena pihak dosen (red; dosen yg berseteru) mempunyai kesibukan lain, yaitu MENCARI KESALAHAN DAN CELAH YANG DIMILIKI OLEH LAWANNYA. Padahal, saya kira masih banyak permasalahan lain yang lebih penting yang mesti diselesaikan oleh pihak dosen dan mahasiswa demi kemajuan kampus. Oh ya, kalo memang harus terjadi persaingan antar dosen, seharusnya yang berbau positif donk. Misalnya saja persaingan dalam bidang akademik, dimana antar dosen saling berlomba untuk memajukan kemampuan akademiknya dengan melanjutkan kuliahnya di luar negeri. Kan itu lebih baik dalam memajukan kualitas kampus.
Trus, bagaimana menyelesaikannya???
         Saya kira persoalan pelik seperti ini dapat diselesaikan oleh kesadaran masing-masing dari pihak yang berseteru. Sikap toleransi antar mereka harus lebih ditingkatkan lagi, dimana yang tua menyayangi yang muda, dan yang muda menghormati yang tua (dikutip dari buku pelajaran PPKN Kelas 3 SD). Dan ketika sikap toleransi seperti itu dapat terlaksana, maka Insya Allah, konflik sebesar apapun dapat terselesaikan dengan baik. Namun, ketika egoisme menjadi dipertuhankan di kalangan mereka, maka Insya Allah juga, konflik sekecil apapun tak akan mendapatkan penyelesaian, bahkan akan berkembang menjadi sebuah konflik yang besar, yang dapat memecah belah keluarga suatu lembaga kampus. Sungguh suatu kengerian yang besar bagi para dosen dan mahasiswa.
         Untungnya konflik seperti itu tidak menggorogoti lingkungan kampusku, dan mudahan-mudahan tak akan terjadi di Kampus Geografiku ini. AMIN.
         Sebelum kuakhiri, mungkin teman-teman geografi mau lihat keharmonisan para dosen geografi UNM, sehingga teman-teman semua tahu kalo Para Dosen Geografi hidup Harmonis, tanpa konflik dan memiliki persaudaraan yang erat.

Senin, 16 Juni 2008

PROSPEK GEOGRAFI DI DUNIA PASAR

             Menurut Bapak Bintarto, seorang ilmuwan geografi di Indonesia, geografi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan kausal gejala-gejala di muka bumi dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di muka bumi baik yang fisikal maupun yang menyangkut mahkluk hidup beserta permasalahannya, melalui pendekatan keruangan, ekologikal dan regional untuk kepentingan program, proses dan keberhasilan pembangunan. Jika ditinjau dari konsep ini, sangat jelas bahwa ilmu geografi memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia.
             Hal di atas tentu saja telah menjadi sesuatu yang telah terpahami di dalam pikiran sejumlah orang. Namun, tidak berarti bahwa semua orang telah mengtahui hal tersebut. Sebagai contoh, di lingkungan tempat tinggalku, baik itu tetangga, teman ataupun keluarga terkadang bertanya kepada saya, “Geografi itu sebenarnya apa sih? Manfaat apa yang kamu dapat dari ilmu geografi? Dan bagaimana prospek geografi di dunia pasar?”. Terus terang, pertanyaan ini kadang membuatku tersenyum kecil. Bagaimana tidak, suatu ilmu yang objek kajiannya setiap harinya mereka sentuh, lihat, dengar, injak, bahkan menjadi rubrik utama dalam acara berita di TV yang menjadi tontonan sehari-hari, mereka tidak tahu??? Kan aneh, Iya khaaaannnnn...........................?! Apakah harus disebutkan kalo dunia yang mereka tempati, kondisi iklim di wilayah mereka, kondisi geologi dan morfologi di bawah kaki mereka, tsunami di Aceh, Gempa di Jogja, Pemanasan global, dan dinamika penduduk, itu semua adalah kajian dari geografi. Belum paham juga..........??? Ampun dech!
              Ok! Mungkin baiknya, untuk menjelaskan manfaat ilmu geografi dan bagaimana pasar membutuhkan tenaga geografi, ada baiknya kita mulai dari sejarah masa lalu. Tahu tidak, negara-negara di zaman doeloe yang memiliki kejayaan yang gemilang berangkat dari ilmu geografi. Negara Arab dan India menguasai perdagangan karena penerapan ilmu geografi. Dengan peta, mereka dapat mengetahui jalur perdagangan yang ramai akan kegiatan jual-beli dan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki oleh setiap negara. Negara Spanyol dan Inggris dapat berhasil menjadi penjelajah dunia dan penakluk negara karena ilmu geografi. Dan satu lagi, Hittler, sang penjahat perang, hampir menguasai dunia karena ilmu geografi. Bagaimana bisa? Ya, tentu saja dengan peta, dimana strategi dan taktik perang diatur dalam selembaran kertas ajaib tersebut. Dari peta, Hittler dapat mengetahui negara mana yang lebih dulu harus ditaklukkan dan penyerangannya dilakukan dari arah mana. Percaya khan...?!
                 Setelah dari masa lalu, kita berangkat ke masa sekarang. Btw, hampir setiap instansi, baik pemerintah maupun swasta butuh yang namanya pemetaan dan analisis geografi dalam membantu melaksanakan kegiatannya. Untuk melakukan sebuah proyek, pemetaan lokasi merupakan hal yang pokok dibutuhkan dalam menjalankan kegiatan proyek tersebut. Tanpa proses pemetaan, proyek tersebut tidak dapat berjalan dengan baik. Selain proses pemetaan, analisis lokasi juga sangat dibutuhkan, apakah lokasi tersebut cocok untuk suatu proyek atau tidak. Dan perlu teman-teman ketahui bahwa yang bisa melakukan itu semua adalah Mahasiswa Geografi dan hanya mahasiswa geografi............!!!! mungkin ada segelintir orang yang mampu mengoperasikan suatu software pembuatan peta (misalnya map info, Ermapper, atau Arc view), namun kemampuan menganalisa hanya dimiliki oleh mahasiswa geografi. Coba Anda lihat ke depan, bagaimana pembangunan dilakukan, bagaimana tingkat bencana yang harus diminimalisir, dan bagaimana peningkatan pelayanan terhadap masyarakat yang terus bertambah? Jawabnya adalah, tenaga geografer sangat dibutuhkan di dunia pasar.

Minggu, 15 Juni 2008

Mahasiswa Geografi = Cinta lingkungan

            Pernahkah teman-teman berfikir..??? bagaimana kondisi bumi kita ini 10 tahun ke depan, 100 tahun ke depan atau 1000 tahun ke depan. Apakah kondisinya sama dengan kondisi sekarang? Atau bahkan lebih baik? Atau malah tambah hancurrrr? Mungkin di otak kanan kita berfikir; “Aku khan hidup di masa sekarang, jadi tuk apa aku memikirkan 10 atau 1000 tahun ke depan???” iya benar, kalo kita melihat dari aspek ‘EGO”. Tapi kalo dilihat dari aspek sosial, jawabnya tidak seperti itu. Kawan-kawan, kalian semua nanti akan menghadapi peristiwa yang namanya “Married”. Dari kisah indah itu, tumbuh benih-benih penerus yang semakin hari semakin dewasa. Mantan benih tersebut juga kemudian memiliki benih baru, dan benih baru itu ..................dst. “Benih- benih baru” itulah yang bakal merasakan kondisi dunia pada 10 atau 100 tahun kemudian. Dan tahukah kalian? Benih-benih baru itu adalah darah daging kalian yang seharusnya kalian sayangi, cintai, lindungi, dan kasihi. Trus bagaimana menyampaikan rasa kasih kalian padahal jarak waktu antara kalian sungguh sangat jauh? Secara langsung, itu tak mungkin kawan-kawan lakukan. Yang bisa kalian lakukan adalah bagaimana menjaga kondisi bumi kita ini menjadi lebih baik, atau minimal tetap seperti kondisi saat ini, sehingga apa yang kita hirup, makan, minum dan yang kita lihat, dapat pula dirasakan oleh darah daging kita di masa yang akan datang.
            Untuk membuat masa depan tersebut menjadi terkabulkan memang membutuhkan pengorbanan yang cukup besar. Namun bukan berarti itu tidak dapat terlaksana. Di beberapa daerah pedalaman, “kearifan lokal” dari suatu masyarakat dalam menjaga alam ini masih dapat kita lihat. Sebagai contoh, di suatu daerah pedalaman (kalo tidak salah, daerah itu adalah wilayah kajang di Sulsel), menerapkan suatu aturan yang mewajibkan penduduknya untuk menanam pohon dengan jumlah 2 kali lipat dari jumlah pohon yang ditebangnya. Tentu saja penerapan dari norma ini sangat bermanfaat bagi kelestarian lingkungan. Yang jadi pertanyaan, bagaimana dengan kawan-kawan sekalian yang memiliki pendidikan yang jauh lebih tinggi dari masyarakat desa tersebut, yang mana pengetahuan akan lingkungan dan dampak-dampaknya lebih kita ketahui dari mereka? Secara logika, jawabnya adalah kita seharusnya lebih menerapkan tindakan tersebut. Trus, bagaimana fakta yang terjadi di lapangan??? Apakah demikian?? Jawabnya ada di kepala kalian.
            Seorang pemikir geografi pernah berkata: “jangan pernah mencoba untuk melawan alam, tetapi cobalah untuk membimbingnya. Namun ketika anda mencoba untuk melawannya, niscaya anda akan hancur”. Apa artinya??? Ini merupakan suatu ultimatum dalam menghadapi alam. Semakin besar perlawanan dan tindakan merusak yang dilakukan oleh manusia, maka semakin besar pula serangan balik dari alam. Perlakuan manusia terhadap alam ibaratnya seperti bumerang yang saat dilempar ke udara akan kembali kepada orang yang melemparnya. Untuk itu, agar malapetaka dapat terhindari, maka cobalah untuk membina alam ini, yang tadinya telah hampir mengalami kerusakan, maka kita sebagai manusia harus memiliki kesadaran dalam memperbaiki keadaan tersebut. Banyak bencana yang terjadi karena ulah manusia itu sendiri. Sebagai contoh kecil, dalam memenuhi kebutuhan ekonomi, terkadang alam dijadikan tumbal, dimana banyak dilakukan penebangan hutan ilegal, pembukaan lahan-lahan baru untuk pertanian yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah aturan, dan penggalian tanah secara sembarangan untuk keperluan bahan timbunan. Akibatnya apa? Bencana tanah longsor, banjir, dan kekeringan terjadi di wilayah tersebut. Ujung-ujungnya kan manusia juga yang kena......! hanya karena ingin mendapatkan keuntungan yang kecil, malah dapat kerugian yang cukup besar.
            Oh iya, saya pernah mengikuti suatu kajian yang diadakan oleh himpunan Geografi UNM, dimana pembicara/narasumber kajian tersebut adalah seorang aktivis lingkungan yang memiliki wajah paras cuantik (Maaf, namanya saya lupa). Dari celoteh yang keluar dari lidahnya, ada satu pesan yang sampai sekarang mudah-mudahan saya masih ingat. Pesannya seperti ini: “Jangan mengaku sebagai mahasiswa geografi kalo tindakan kalian masih merusak lingkungan, membuang sampah di sembarang tempat,.............”. ujarnya. Dari pemikiran otak kiri, kita mahasiswa setuju-setuju aja. Namun ketika “EGO” kita lagi-lagi terkuak keluar, kata-kata tersebut hanyalah sebuah hembusan angin lembut yang lewat di depan kita, tanpa jejak dan tanpa kesan. Yang jadi renungan bagi kita mahasiswa geografi, “Haruskah pemikiran kita selalu dilandasi dengan hawa nafsu? Renungkanlah wahai kawan.....!!!! Kesalahan yang kecil yang terus dilakukan akan menyebabkan kerugian besar pada diri kita dan orang lain.